February 10, 2020

thumbnail

Contoh Artikel Skripsi Asimetri Informasi

PENGARUH ASIMETRI INFORMASI DAN KEPEMILIKAN MANAJERIAL TERHADAP MANAJEMEN LABA
Wulan Suminar
Jurusan S1 Akuntansi

Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh asimetri informasi dan kepemilikan manajerial terhadap manajemen laba. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan sektor pertambangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2015-2017 dengan metode pemilihan sampel adalah purposive sampling. Data diperoleh dengan menggunakan metode dokumentasi yaitu penelitian yang dilakukan dengan mengumpulkan data-data tertulis yang ada kaitannya dengan penelitian ini. Data berupa laporan tahunan perusahaan yang diterbitkan oleh perusahaan dari tahun 2015 – 2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Asimetri informasi yang diproksikan dengan bid offer spread tidak berpengaruh terhadap manajemen laba sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Putri (2015) dan Kepemilikan manajerian yang diproksikan dengan jumlah kepemilikan yang dimiliki manajemen perusahaan tidak berpengaruh terhadap manajemen laba sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Agustian (2014).

Kata kunci : Manajemen Laba, Asimetri Informasi, Kepemilikan manajerial










“EFFECT OF INFORMATION ASYMMETRY AND MANAGERIAL OWNERSHIP OF PROFIT MANAGEMENT”
Wulan Suminar
Jurusan S1 Akuntansi

ABSCTRACT
This study aims to determine the effect of information asymmetry and managerial ownership on earnings management. The population used in this study is mining sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange for the period 2015-2017 with the sample selection method is purposive sampling. Data obtained using the documentation method that is research conducted by collecting written data that is related to this research. Data in the form of company annual reports published by companies from 2015 - 2017. The results of the study show that the information asymmetry proxied by the bid offer spread has no effect on earnings management according to research conducted by Putri (2015) and managerial ownership which is proxied by the amount of ownership owned by company management has no effect on earnings management according to research conducted by Agustian (2014).
Keywords: Profit Management, Information Asymmetry, Managerial Ownership











1. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Manajemen Laba yang dilakukan pada laporan keuangan mengganggu pemakai laporan keuangan yang mempercayai angka laba hasil rekayasa tersebut sebagai angka laba tanpa rekayasa (Mayasto, 2008). Maksud dari menambah bias laporan keuangan adalah bahwa laporan tersebut menggunakan metode-metode akuntansi tertentu sehingga timbul laporan-laporan. Menurut Ginanjar (2011) manajemen laba harus dicegah karena dapat menyesatkan keputusan investor. Akan tetapi, manajemen laba tidak harus dikaitkan dengan upaya untuk memanipulasi data atau informasi akuntansi namun lebih condong dikaitkan dengan pemilihan metode akuntansi (accounting methods) untuk mengatur keuntungan yang bisa dilakukan karena memang diperkenankan menurut accounting regulations (Gunny, 2005).
Kasus manajemen laba yang pernah terjadi pada sektor pertambangan di Indonesia adalah kasus PT. Bumi Resources, Tbk (BUMI). PT. Bumi Resources, Tbk dilaporkan Indonesia Coruption Watch (ICW) atas dugaan manipulasi pelaporan penjualan tiga perusahaan tambang batubara milik Grup Bakrie kepada Direktur Jendral Pajak (DJP). Koordinator divisi monitoring dan Analisis Anggaran ICW, menduga rekayasa pelaporan keuangan yang dilakukan oleh PT. Bumi Resources Tbk, dan juga anak usahanya sejak tahun 2003-2008 tersebut menyebabkan kerugian negara sebesar US$620,49 juta. Dugaan manipulasi laporan penjualan terjadi pada PT. Kaltim Prima Coal (KPC), PT Arutmin Indonesia dan induk kedua perusahaan tersebut, yakni PT. Bumi Resources Tbk (BUMI). Hasil perhitungan yang dilakukan oleh ICW dengan menggunakan berbagai data primer termasuk laporan keuangan yang telah diaudit, menunjukan bahwa laporan penjualan PT. BUMI selama tahun 2003-2008 lebih rendah US$ 1.06 milliar dari yang sebenarnya. Akibatnya, selama itu pula diperkirakan kerugian yang diderita negara dari kekurangan penerimaan dana hasil produksi Batubara (royalty) sebesar US$ 143,18 juta (www.tempo.com, 2010).
Untuk dapat mendeteksi ada tidaknya manajemen laba dapat menggunakan Discretionary revenue models yang diperkenalkan oleh Stubben, model ini muncul atas dasar ketidakpuasan terhadap model pendeteksian manajemen laba yang umum digunakan saat ini yaitu model jones. Discretionary revenue merupakan selisih antara perubahan aktual piutang dengan prediksi perubahan piutang berdasarkan model. Discretionary revenue menggunakan komponen piutang yang merupakan fungsi utama dari perubahan pendapatan yang digunakan untuk mendeteksi manajemen laba. Menurut Stubben (2010) pendapatan adalah komponen yang ideal untuk diperiksa karena pendapatan merupakan komponen terbesar yang ada di perusahaan yang dapat dimanipulasi. Stubben (2010) menjelaskan bahwa pengungkapan pendapatan lebih awal (premature revenue recognition) merupakan bentuk paling umum dari manipulasi pendapatan. Dengan mengakui pendapatan lebih awal atau mencatat pendapatan yang belum terealisasi mengakibatkan pendapatan periode berjalan lebih besar dari pendapatan yang sesungguhnya, sehingga kinerja perusahaan seolah-olah terlihat lebih baik dari yang sebenarnya.
Menurut Raharja (2014) tindakan manajemen laba terjadi karena pihak menajemen sebagai pengelola perusahaan lebih banyak mengetahui informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan dengan pemilik perusahaan. Dengan pengetahuan informasi tersebut terkadang agent menyampaikan informasi kepada pemilik tidak sesuai dengan kondisi perusahaan yang sesungguhnya. Kondisi ini dikenal sebagai informasi yang tidak simetris atau asimetri informasi (information asymetric).
Asimetri informasi yang terjadi antara agent dan principal ini dapat menimbulkan suatu peluang kepada agent untuk melakukan praktik manajemen laba di perusahaan, karena dengan adanya informasi yang dimiliki oleh agent lebih banyak daripada principal maka agent dengan mudah dapat memanipulasi informasi keuangan yang ada di perusahaan untuk memperoleh keuntungan tertentu (Dwijayanti dan Suryanawa, 2017). Beberapa penelitian terdahulu terkait asimetri informasi dan manajemen laba telah banyak dilakukan, seperti penelitian yang dilakukan oleh Nariastiti dan Ratnadi (2014), Putra dkk (2014), Raharja (2014), Manggau (2016), Dwijayanti dan Suryanawa (2017) serta Wijaya, dkk (2017) menunjukkan bahwa asimetri informasi berpengaruh positif terhadap praktik manajemen laba. Kontradiktif dengan penelitian yang dilakukan oleh Putri (2013), dan Agustian (2013) yang menemukan hasil bahwa tidak terdapat pengaruh antara asimetri informasi dengan manajemen laba.
Tindakan manajemen laba yang dilakukan manajer dapat diminimumkan dengan adanya kepemilikan manajerial. Dilihat dari sudut pandang teori akuntansi, manajemen laba sangat ditentukan oleh motivasi manajer perusahan. Motivasi yang berbeda akan menghasilkan besaran manajemen laba yang berbeda, seperti antara manajer yang juga sekaligus sebagai pemegang saham dan manajer yang tidak sebagai pemegang saham. Dua hal tersebut akan mempengaruhi manajemen laba, sebab kepemilikan seorang manajer akan ikut menentukan kebijakan dan pengambilan keputusan terhadap metode akuntansi yang diterapkan pada perusahaan yang mereka kelola. Sehingga dapat dikatakan bahwa persentase tertentu kepemilikan saham oleh pihak manajemen cenderung mempengaruhi tindakan manajemen laba (Gideon, 2005). Kepemilikan manajerial adalah kondisi yang menunjukkan bahwa manajer memiliki saham dalam perusahaan atau manajer tersebut sekaligus sebagai pemegang saham perusahaan.
Hal yang serupa juga diungkapkan oleh Midiastuty dan Machfoedz (2006), menurutnya dengan meningkatkan kepemilikan saham oleh manajer, diharapkan manajer akan bertindak sesuai dengan keinginan prinsipal karena manajer akan termotivasi untuk meningkatkan kerja. Beberapa penelitian terdahulu terkait asimetri informasi dan manajemen laba telah banyak dilakukan, seperti penelitian yang dilakukan oleh Aryanti, dkk (2017), Dwijayanti dan Suryanawa serta Wijaya, dkk (2017) menemukan hasil bahwa terdapat pengaruh antara kepemilikan manajerial dengan manajemen laba. Kontradiktif dengan penelitian yang dilakukan oleh Agustian (2014) yang menemukan bahwa tidak terdapat pengaruh antara kepemilikan manajerial dengan manajemen laba.
Populasi dalam penelitian ini adalah sektor pertambangan yang terdaftar di BEI periode tahun 2015-2017. Alasan peneliti memilih sektor pertambangan karena sektor ini rentan terhadap kebijakan-kebijakan yang dapat mempengaruhi laba perusahaan. Seperti halnya kebijakan yang dikeluarkan pada tahun 2016 yaitu kebijakanmenaikkan pajak ekspor yaitu ditetapkan sebesar 60% karena pemerintah menganggap nilai yang diperoleh pemerintah dari sektor tambang masih rendah. Karena pajak merupakan pengurang laba sehingga penetapan kebijakan ini dapat mengurangi laba sektor tambang. 

2.Tinajauan Pustaka
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory)
Teori keagenan merupakan hubungan kontraktual antara principal (pemilik) dan agent (manajemen) untuk melakukan beberapa jasa atas nama principal (pemilik), yang meliputi pendelegasian wewenang dan tanggung jawab kepada agent dalam pengambilan keputusan. Dalam hal ini, principal memberikan wewenang dan tanggung jawab kepada agent sesuai dengan kontrak yang disepakati bersama. Teori agensi memiliki asumsi bahwa masing-masing individu termotivasi oleh kepentingan diri sendiri sehingga menimbulkan konflik kepentingan antara principal dan agent (Jensen dan Meckling, 1976). Sebagai pengelola, agent mengetahui lebih banyak informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang bandingkan dengan principal (pemilik). Informasi yang lebih banyak dimiliki oleh agent dapat memicu perilaku oportunis dari manajer (agent). Perilaku oportunis inilah yang membuat agent (manajer) terkadang menyampaikan informasi yang tidak sesuai dengan kondisi perusahaan yang sebenarnya, kondisi seperti ini dikenal dengan asimetri informasi (asymmetric information).
2.1.2 Manajemen Laba
2.1.2.1 Definisi Manajemen Laba
Manajemen laba dapat didefinisikan sebagai intervensi manajemen dengan sengaja dalam menentukan laba dalam proses penyusunan pelaporan keuangan eksternal, dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan pribadi (Manurung dan Isynuwardhana, 2017). Menurut Scott (2015) beberapa motivasi manajemen laba yang mendorong manajer perusahaan untuk melakukan manajemen laba, yaitu:

1. Motivasi Bonus, yaitu manajer yang memiliki informasi atas laba bersih perusahaan akan bertindak secara oportunistik untuk melakukan manajemen laba dengan memaksimalkan laba saat ini.
2. Motivasi Kontraktual Lainnya, yaitu manajer suatu perusahaan yang memiliki rasio debt/equity yang besar cenderung akan memilih prosedur-prosedur akuntansi yang dapat memindahkan periode mendatang ke periode berjalan. Manajer melakukan manajemen laba untuk memenuhi perjanjian hutangnya.
3. Motivasi Politik, yaitu manajemen laba digunakan untuk mengurangi laba yang dilaporkan pada perusahaan politik. Perusahaan cenderung mengurangi laba yang dilaporkan karena adanya tekanan publik yang mengakibatkan pemerintah menetapkan peraturan lebih ketat.
4. Motivasi Pajak, menyatakan bahwa perpajakan merupakan salah satu motivasi mengapa perusahaan mengurangi labanya yang dilaporkan. Tujuannya adalah dapat meminimalkan jumlah pajak yang harus dibayarkan.
5. Pergantian CEO, yaitu motivasi manajemen laba ada di sekitar waktu pergantian CEO. Biasanya CEO yang akan pensiun atau masa kontraknya menjelang berakhir akan melakukan strategi memaksimalkan jumlah pelaporan laba guna meningkatkan jumlah bonus yang akan mereka terima. Hal yang sama akan dilakukan oleh manajer dengan kinerja yang buruk. Tujuannya adalah  menghindari diri dari pemecatan sehingga mereka cenderung untuk menaikan jumlah laba yang dilaporkan.
6. Motivasi Pasar Modal, motivasi ini muncul karena informasi akuntansi digunakan secara luas oleh investor dan para analisis keuangan untuk menilai saham. Dengan demikian, kondisi ini memberikan kesempatan bagi manajer untuk memanipulasi laba dengan cara mempengaruhi performa harga saham jangka pendek.”
2.1.2.2 Manajemen Laba Revenue Discretionary Model
Laba merupakan komponen yang berasal dari selisih antara pendapatan dengan beban. Oleh sebab itu komponen pendapatan dan beban dapat dijadikan sasaran manajemen untuk mengelola laba. Berbagai macam model pendeteksian manajemen laba dapat digunakan sebagai alat untuk mendeteksi manajemen laba dalam sebuah perusahaan (Sari dan Ahmar, 2014). Model discretionary accruals merupakan model awal dalam mendeteksi manajemen laba yang diperkenalkan oleh Jones pada tahun 1991, kemudian dikembangkan kembali oleh Dechow et al. (1995) karena model Jones tidak mampu mendeteksi manajemen laba berbasis pendapatan karena perubahan pendapatan diasumsikan bersifat nondiscretionary, model ini dikenal dengan istilah Modified Jones Model. Namun, model ini juga telah banyak dikritik karena menghasilkan uji daya yang rendah dalam mendeteksi manajemen laba, atas dasar hal tersebut Stubben (2010) mengembangkan model discretionary revenue yang diprediksi akan mampu mendeteksi manajamen laba dengan lebih baik.
2.1.3 Asimetri informasi
Asimetri informasi adalah suatu keadaan di mana manajer sebagai pengelola memiliki lebih banyak informasi internal dan prospek perusahaan di masa yang akan datang dibandingkan dengan pemilik (pemegang saham) (Ujiyantho dan Pramuka, 2007). Asimetri informasi yang terjadi antara agent (manajer) dan principal (pemilik) ini dapat menimbulkan suatu peluang kepada agent untuk melakukan praktik manajemen laba di perusahaan, karena dengan adanya informasi yang dimiliki oleh agent lebih banyak daripada principal maka agent dengan mudah dapat memanipulasi informasi yang ada di perusahaan (Raharja, 2014). Dalam penyajian informasi akuntansi, khususnya penyusunan laporan keuangan, agent juga memiliki informasi asimetri sehingga dapat lebih fleksibel dalam mempengaruhi pelaporan keuangan untuk memaksimalkan keuntungannya (Wicaksono dan Hasthoro, 2014).
2.1.4.Kepemilikan Manajerial
Kepemilikan manajerial adalah kondisi yang menunjukkan bahwa manajer memiliki saham dalam perusahaan atau manajer tersebut sekaligus sebagai pemegang saham perusahaan. Kepemilikan manajerial dalam perusahaan dipandang dapat menyelaraskan potensi konflik kepentingan antara pemegang saham luar dengan manajemen. Adanya kepemilikan saham dari manajerial akan memperoleh manfaat langsung dari keputusan yang diambilnya, namun akan menanggung resiko secara langsung bila keputusan itu salah.
Berdasarkan teori keagenan, perbedaan kepentingan antara manajer dan pemegang saham ini mengakibatkan timbulnya konflik yang biasa disebut agency conflict. Konflik kepentingan yang sangat potensial ini menyebabkan pentingnya suatu mekanisme yang diterapkan guna melindungi kepentingan pemegang saham (Jensen dan Meckling, 1976).Dengan adanya kepemilikan manajerial dalam perusahaan maka dapat menimbulkan dugaan bahwa nilai perusahaan dapat meningkat jika kepemilikan manajemen meningkat. Kepemilikan manajerial yang besar akan efektif untuk mengawasi aktivitas perusahaan.
3.1. Hasil Pengujian Hipotesis
Hasil dari uji statistik t dapat dilihat pada tabel berikut:
Hasil Uji Statistik t
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 0,005 0,007 0,792 0,431
AI -0,005 0,005 -0,124 -1,082 0,283
KM 0,006 0,009 0,076 0,660 0,511
Hasil pengujian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari asimetri informasi (AI), dan kepemilikan manajerial (KEM), terhadap manajemen laba (EM) yang dapat dijelaskan sebagai berikut :


a. Variabel Asimetri Informasi
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa nilai t hitung sebesar -1,802 dan nilai sig sebesar 0,283. Nilai t hitung < t tabel (-1,802 < 1,66) dan tingkat signifikansi (𝛼) > 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak, ini berarti bahwa variabel asimetri informasi tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.
b. Variabel kepemilikan manajerial (KEM)
Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa nilai t hitung sebesar 0,660 dan nilai sig sebesar 0,511. . Nilai t hitung < t tabel (0,660 < 1,66) dan tingkat signifikansi (𝛼) > 0,05 maka Ho diterima dan Ha ditolak, ini berarti bahwa variabel kepemilikan manajerial tidak berpengaruh signifikan terhadap manajemen laba.

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan di atas, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Asimetri informasi yang diproksikan dengan bid offer spread tidak berpengaruh terhadap manajemen laba sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Putri (2015) dan
2. Kepemilikan manajerian yang diproksikan dengan jumlah kepemilikan yang dimiliki manajemen perusahaan tidak berpengaruh terhadap manajemen laba sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Agustian (2014).



Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments

Popular Posts

About me

Berusaha untuk mencapai keinginan, berpandangan luas untuk menggapai cita-cita "Man Jadda wa jada"

Read More

Followers

Total Pageviews